Kamis yang Tak Terlupakan
Seperti hari-hari biasanya, pagi itu aku berangkat ke kantor dengan semangat 45 mengayuh sepeda bututku. Kamis, 27 Mei 2010, hari yang seharusnya spesial untukku, namun aku tak ingin mengistimewakannya. Bagiku, semua hari adalah sama, bahkan ketika hari tersebut adalah hari yang jatuh pada tanggal kelahiranku. Yang membuat hari itu spesial yaitu, aku melewatkan hari pertambahan usiaku di kantor yang baru, dengan rekan-rekan baru pula.
Ingin berbagi keceriaan dengan teman-teman di kantor, aku pun membawakan mereka makanan kecil ala kadarnya, sebagai tanda syukur aku telah diberi kehidupan hingga hari itu. Alhamdulillah, mereka menyambutnya dengan gembira dan satu-persatu memberiku ucapan selamat juga doa.
Selanjutnya, suasana kerja berjalan seperti biasanya. Hingga akhirnya jam dinding menunjukkan pukul 16.00 WIB, aku pun membereskan berkas-berkas kerja dan bersiap untuk pulang. Saat itu ruangan kerja hampir kosong, ada teman yang sudah pulang, sedang ke kamar kecil, ataupun menjalankan ritual sholat ashar. Namun, tiba-tiba saja mereka muncul secara bersamaan dan dengan paksa menyeretku. Sebagian ada yang memegang kedua tanganku dan sebagian lagi ada yang berusaha mengangkat kakiku untuk mengangkatku paksa, karena saat itu aku berontak ingin melepaskan diri dari cengkeraman mereka.
Aku benar-benar terkejut, "Ya Allah, mau diapaain aku ini??!" jeritku. Bukannya menjawab pertanyaanku mereka malah tertawa-tawa dan menyuruhku menurut saja kalau tak ingin diangkat beramai-ramai. Karena kehabisan tenaga melawan mereka yang lebih dari lima orang sambil menuruni tangga. Akhirnya aku hanya bisa pasrah mengikuti kemauan mereka. Ternyata aku dibawa ke halaman depan kantor. Di sana sudah ada yang standby juga menunggu arak-arakkan yang membawaku. Mereka sudah mempersiapkan tali rafia di pagar dan ramuan yang aromanya sangat menusuk hidung.
Tanpa ampun mereka menyeretku ke pagar dan mengikat kedua tanganku. Tak peduli saat itu rintik gerimis mengiringi, mereka tetap saja tak mau mendengarkan permohonanku agar melepaskanku. Satu-persatu dari mereka malah dengan membabi-buta menyiramkan air ke tubuhku. Tak lama kemudian serbuan tepung, telur, dan entah ramuan apa yang aromanya sangat busuk. Mataku merah. Bukan karena menahan tangis, tapi karena menahan mual dalam perutku yang ditimbulkan oleh bau tubuhku yang sudah basah dan tak karuan.
Kulihat wajah-wajah puas teman-teman yang tanpa ampun menganiayaku. Aku masih terikat di pagar dan mereka meninggalkanku. Ouch! Kurang ajar sekali mereka. Lihat saja pembalasanku! Beberapa teman masih ada yang berada di sekitarku, namun mereka sama sekali tak mau membantuku melepaskan diri dari ikatan. aku terus menggerak-gerakkan tangan, dengan harapan ikatannya lepas. Benar saja, ikatan di tangan kiri mulai kendor hingga akhirnya bisa terlepas. Dengan gesit aku segera melepaskan ikatan tangan kanan, kemudian berlari mengejar teman-teman yang masih di luar dan menempelkan badanku ke mereka agar mereka pun menjadi bau sepertiku. Mereka berteriak dan lari tunggang langgang. Hahahahha... :P
Terus terang, dengan kejutan dari teman-teman tersebut, hari yang tadinya kuanggap biasa menjadi sangat spesial. Melewatkan hari kelahiran dengan 'prosesi siraman' baru kurasakan saat itu juga. Aku sama sekali tak marah, sebaliknya aku malah bahagia, karena dengan surprise tersebut menandakan bahwa mereka perhatian padaku. Ya, meskipun tak ada kue tart dan tiup lilin. Bagiku, serbuan bahan mentah untuk membuat kue tart saja sudah lebih dari cukup dan yang terpenting lagi adalah kebersamaan yang bisa terjalin. Terima kasih, teman-teman. Hari tersebut akan selalu kukenang dalam hidupku. :)
Postingan ini ditulis untuk ikut menyemarakkan ulang tahun komunitas dBlogger yang ke-3.